SIROMBU…..PASAR,KOTA DAN PELABUHAN KENANGAN

13,Oktober, 2007

delasiga-pangeran-albert.jpg

PANGERAN ALBERT DARI MONACO BERSAMA BAPAK FENA MARUNDRURI DAN AMA HERTI HIA

delasiga-kota-sirombu-hancur.jpg

KONDISI PASAR SIROMBU SESUDAH DIHANTAM TSUNAMI 26 DESEMBER 2004

delasiga-gedung-serbaguna.jpg

GEDUNG AULA DI PERUMAHAN DELASIGA DI PEMUKIMAN BARU

delasiga-pengurus.jpg

PENYERAHAN RUMAH KEPADA 239 WARGA MONACO DELASIGA

kota-sirombu.JPG

SISA PASAR SIROMBU SETELAH KEBAKARAN 1985, TSUNAMI 2003 DAN GEMPA 2004

sirombu.JPG

PETA KECAMATAN SIROMBU DAN LAHOMI

Simpati
Air Mata Itu Berubah Menjadi Senyuman

Wismi Warastri

kOMPAS, 4 DESEMBER 2006

Tubuh Orin Daeli (42), guru Sekolah Dasar Nomor 071184, Tetesua, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, bergerak lincah. Bersama belasan perempuan Desa Sirombu, Orin penuh semangat bernyanyi dan menari.

Ibena Marundrury (50) tak kuasa menahan air mata saat memberikan tas anyaman sebagai kenang-kenangan untuk sang pangeran. Dalam bahasa Nias, Ibena dengan haru mengucapkan terima kasih atas bantuan Pangeran Albert.

Minggu (3/12) pagi, Pangeran Albert II dari Kerajaan Monako berlabuh di pantai Desa Sirombu, menggunakan kapal sewaan. Sederhana, dengan pengawalan ala kadarnya dan tanpa aturan protokoler.

Tak berlebihan jika warga Desa Sirombu mengucapkan syukur. Lewat lembaga The Monaco Asia Sosiety (MAS), Pangeran Albert membangun rumah bagi 239 keluarga warga Sirombu, desa kecil di sisi barat Pulau Nias yang 26 Desember 2004 hancur oleh tsunami.

“Kami dulu tinggal berbulan-bulan di tenda,” kata Liana Halawa (39), warga Sirombu. Masa depan saat itu tak jelas. Apalagi, tanggal 28 Maret 2005, gempa berkekuatan 8,7 skala Richter mengguncang Nias, merobohkan bangunan yang tersisa. Hidup menjadi begitu suram.

Bencana itu mengetuk hati banyak orang dan lembaga untuk membangun Nias. Mereka, antara lain, United in Diversity (UID), yang akan menjadi Yayasan untuk Indonesia Damai, sebuah lembaga hasil Forum Bali tahun 2003, The Monaco Asia Society sebagai donatur, Zero to One, Yayasan Delasiga, dan Yayasan Cinta Anak Bangsa. Mereka bahu-membahu membangun Desa Sirombu.

Ratusan rumah tahan gempa kini berdiri di lahan seluas 8,6 hektar, yang dinamakan Kompleks Monaco, tiga kilometer dari desa lama. Rumah dibangun dengan dinding sarkon, yang disusun dari lempengan cetakan semen. Tiang panel ditanam 1,8 meter.

Satu bangunan terdiri dari dua rumah, yang masing-masing terdiri dari dua kamar tidur, satu ruang keluarga, dan satu kamar mandi. Tiap rumah berdiri di atas lahan sekitar 120 meter persegi, sedangkan luas bangunan 8,8 meter kali 6,6 meter. Setiap keluarga juga mendapat bantuan furniture, seperti lemari, tempat tidur, meja makan, hingga seprai. Warga juga dibuatkan sekolah dasar, diberi 60 perahu, dan 282 beasiswa. Kini sedang disiapkan bantuan listrik tenaga matahari untuk setiap rumah sebab listrik di Nias sering padam.

Pangeran Albert pun diam-diam datang untuk meresmikan Kompleks Monaco, bukan dalam sebuah kunjungan resmi. Meskipun UID menyarankan tidak lewat laut, pangeran yang mendarat di Sumatera lewat Padang hari Sabtu itu memilih jalur laut untuk memasuki Sirombu.

Albert dijemput di bibir pantai dengan perahu motor. Ombak yang besar membuat proses transit dari kapal ke perahu berlangsung cukup lama. Seorang petugas keamanan yang mengawal rombongan dari Padang ke Sirombu mengatakan hujan mengguyur mereka di sepanjang perjalanan, dirinya dan awak kapal bahkan mabuk laut.

Empat land cruiser disiapkan panitia untuk membawa rombongan Pangeran yang berjumlah 10 orang. Maklum, jalanan di Nias rusak berat. Lubang menganga di tengah jalan dan dipenuhi air merupakan pemandangan biasa. Menurut warga, situasi saat ini jauh lebih baik.

Bupati Nias Binahati A Baeha memuji keberhasilan proyek pembangunan Kompleks Monaco ini. Albert menikmati perjalanannya dan berteriak, “Yaahowu”, sapaan akrab masyarakat Nias.

Selain di Sirombu, Pangeran Albert juga meresmikan Panti Asuhan Monaco yang dikelola Kongregasi Suster-Suster Cintakasih (SCMM) di Gunungsitoli, empat jam perjalanan dari Sirombu. Separuh jalan di antaranya rusak berat. Sebelum peresmian panti asuhan, ia mengikuti misa kudus di Gereja Paroki St Maria Gunungsitoli yang dipimpin Administratur Keuskupan Sibolga Barnabas Winkler OFMCap.

Pangeran Albert sendiri mengatakan, apa yang ia lakukan di Indonesia ia lakukan pula di Thailand. Proyek kemanusiaan menjadi perhatian Monaco. “Saya senang semua menyambut dengan tersenyum,” katanya. Karena kerja keras banyak orang, senyum itu kini tercipta di Sirombu, dan menghapus kepedihan yang ditimbulkan oleh bencana dua tahun lalu.

Pangeran Albert dan Bill Clinton adalah dua pemimpin dunia yang peduli atas terjadinya tsunami di Aceh dan gempa di Nias. Kehadiran kedua pemimpin itu menunjukkan dunia tetap peduli Nias dan Aceh. Mestinya hal ini melecut Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias yang terkesan lamban.

Sabtu, 31 Desember 2005
MENGENANG SETAHUN TSUNAMI : SEHARI DI SIROMBU

oleh : EtaF. Wiriatmo Daely

Sirombu adalah sebuah kota kecil di Kecamatan Sirombu yang berada di pinggir pantai sebelah barat Pulau Nias. Sirombu bukan ibu kota Kecamatan Sirombu namun hanya sebuah kota kecil dimana pusat perdagangan di kecamatan berada disini. Sirombu letaknya lebih kurang 4 kilometer dari ibu kota Kecamatan Sirombu yaitu Tetesua. Senin tanggal 26 Desember 2004, pada pagi hari sebelum kebaktian gereja dimulai gemuruh ombak bercampur lahar menghempas pantai Sirombu. Pohon Kelapa, rerumputan, rumah, gereja, mesjid, vihara, sepeda motor terlindas dan terhempas oleh dahsyatnya Tsunami. Lebih kurang 10 orang warga Sirombu meninggal dunia dan beberapa orang sampai saat ini tidak diketahui dimana mayatnya terbawa oleh ganasnya gelombang Tsunami. Sirombu dan warganya menangis bersama jutaan umat manusia di Aceh dan di negara lain yang terlanda Tsunami. Solidaritas bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia ikut prihatin dan memberikan bantuan, tanpa melihat suku, bangsa, ras dan agama semua membantu meringankan beban yang diderita oleh warga Sirombu.

Empat hari telah kita lalui, setahun sudah kejadian Tsunami seakan-akan mimpi buruk yang kemarin malam kita mimpikan, bayangan kejadiannya masih terus terbayang namun Tsunami seakan tertinggal oleh mimpi buruk yang lebih buruk lagi yaitu gempa bumi. Pada hari Kamis tanggal 29 Desember 2005 kami berkesempatan melihat langsung kondisi kota kecil Sirombu di Kecamatan Sirombu. Kota kecil Sirombu seakan tinggal nama saja, dan nyaris bagaikan kota mati tanpa adanya denyut kehidupang perdagangan seperti setahun yang lalu. Rumah yang dan toko yang masih tetap bertahan lebih kurang 3 rumah/toko. Pemerintah Kabupaten Nias pada mulanya memang telah membuat himbauan untuk tidak ada lagi yang bertempat tinggal lagi di Sirombu karena akan ditata nantinya menjadi suatu wilayah objek turisme. Namun Sepinya Sirombu bukan disebabkan warga benar-benar sadar untuk melaksanakan himbauan pemerintah namun karena adanya gempa bumi pada hari Senin tanggal 28 Maret 2005, warga benar-benar kalap dan kapok untuk tinggal di Sirombu. Warga Sirombu pada malam itu berlari dan berpindah menuju Tetesua (ibu kota Kecamatan Sirombu) karena rasionalitas pikiran akan munculnya Tsunami yang maha dasyat karena gempanya yang cukup kuat dan lama (bukan iklan obat kuat, red.). Gempa yang getarannya sedikit saja tanggal 26 Desember 2004 sudah mengerikan gelombang Tsunaminya, konon lagi kalau getarannya rruarr biasa (ini baru iklan, red.). Warga memutuskan untuk mengungsi dan menetap di Tetesua hingga saat ini setelah setahun adanya Tsunami.

Pelabuhan Sirombu sejak usai Tsunami sudah tidak pernah disinggahi kapal yang berasal dari Sibolga yang memasukkan barang dari Sibolga ataupun yang membawa hasil bumi Kecamatan Sirombu untuk dibawa ke Sibolga. Oleh Bapak Naz. Gea, administratur pelabuhan Sirombu mengatakan bahwa sampai saat ini ia belum mengetahui apakah Pelabuhan ini akan tetap pada lokasi semula atau akan direlokasi pada lokasi baru yang kabarnya berjarak lebih kurang 3 kilometer yaitu di Gawuduho. Jalan ke lokasi Gawuduho sudah diaspal namun realisasi pembangunan pelabuhan dan siapa yang akan membangun masih belum ada. Gea menambahkan bahwa lalulinta kapal yang bersandar umumnya kapal boat kecil yang berasal dari Pulau Hinako (masih bagian dari Kecamatan Sirombu) yang hilir mudik untuk membawa kebutuhan masyarakat Hinako. Kondisi pelabuhan Sirombu rusah berat dimana bagian atas yang membentuk huruf T sudah hancur akibat gempa bumi yang lalu. Akibat lain sejak gempa bumi ini air laut di pantai Sirombu surut lebih kurang 1,5 – 2 meter sehingga wilayah pantai bertambah sejauh lebih kurang 150 meter kearah laut. Kaki fondasi tonggak pelabuhan kelihatan mengakibatkan kapal yang dapat bersandar ke Pelabuhan adalah kapal kecil atau boat.

Lebih kurang 3 km dari Sirombu menuju Tetesua tepat di daerah Mbaöla, sebuah Yayasan yang dimotori oleh Fona Marunduri telah berhasil membangun ratusan rumah penduduk yang diutamakan warga masyarakat Sirombu yang non Pegawai Negeri. Beberapa pegawai negeri warga Sirombu hanya dapat mengelus dada mencoba bertahan hidup meskipun rumah dan harta bendanya juga ikut musnah akibat Tsunami dan Gempa. Rumah yang dibangun oleh Yayasan Delasiga ini ukurannya lebih kurang 7 X 5 meter, 2 kamar, dinding dari bahan pasir beton, lantai semen dan beratap seng. Masyarakat Sirombu sangat bersyukur atas bantuan Yayasan Delasiga dan lebih dari 70% dari rumah yang sudah siap telah dihuni oleh warga masyarakat Sirombu.

Sebuah pasar yang terletak lebih kurang 100 meter dari kantor Camat Sirombu yang dibangun oleh IOM terlihat sepi dan tidak ada yang menyewa dan atau menempati. Kondisi pada saat dilihat penuli terlihat beberapa dinding pecah dan terbuka alias bolong. Beberapa warga enggan berkomentar mengapa tidak ada yang menempati kios, namun dari beberapa informasi mengatakan bahwa ukuran setiap kios yang sangat kecil lebih kurang 1 X 2 meter tidak biasa bagi warga pedagang masyarakat Sirombu yang berdagang pada kios yang lebih besar dari ukuran yang dibangun oleh IOM tersebut. Tetapi justru 30 meter dari Pasar/Kios yang dibangun IOM telah berdiri beberapa rumah darurat dijadikan sekalian kios/toko tempat berjualan warga. Tetesua ibu kota Kecamatan Sirombu telah beralih menjadi kota perdagangan baru menggantikan Sirombu.

Gawuduho yang letaknya lebih kurang 3 km dari Tetesua menjadi lahan potensial bagi pengembangan kawasan perdagangan dan kawasan industri dan pelabuhan. Yayasan Delasiga telah mencoba menawarkan usul bagi pembangunan suatu kawasan pelabuhan, industri dan perdagangan dalam suatu konsorsium namun saat ini belum ada tindak lanjutnya karena belum adanya kepastian akan beberapa konsesi yang diajukan konsorsium kepada pemerintah. Namun jalan menuju Gawuduho sudah diaspal dengan baik dan 2 buah jembatan penghubung juga telah dibangun dengan baik.

Banyak harapan yang ada dalam benak warga Sirombu. Meskipun kota kecil Sirombu nantinya akan hilang namun kiranya pembangunan akan adanya kawasan pelabuhan, industri dan perdagangan akan dapat terealisasi di kawasan sekitar Sirombu. Semoga……

Sirombu terdiri dari 26 Desa yaitu :

Hilimberua, Lahusa, Ombolata, Tetehosi, Togimbogi, Sisobandrao, Fadoro, Tugalagawu, Sirombu, Togide’u, Tugala, Orahili, Gunung Cahaya, Tiga Serangkai, Hiliadulo, Sisobambowo, Bawosalo’o, Imana, Tuwa-tuwa, Kafo-kafo, Bawa Sawa, Pulau Bogi, Halamona, Hanofa, Lahawa, Hinako, Sinene’eto, Balowondrato.

Lahomi terdiri dari 9 Desa yaitu :
Sisobaoho, Bawozamaiwo, Sitolubanua, Lologundre, Iraonogaila, Onowaembo, Onolimbu, Sisobambowo, Lolowa’u,

About these ads

23 Responses to “SIROMBU…..PASAR,KOTA DAN PELABUHAN KENANGAN”

  1. Famahaogo Daeli Says:

    Saya cukup mengenal kota Sirombu sejak tahun 1980, dulu ramai sekali tiap hari apalagi kalau hari sabtu, saking ramainya kalau kita jalan bisa bertabrakan dengan dengan orang lain.

    Semua mantan kecamatan mandrehe dan sirombu serta Lolowa’u belanja disana dan kegiatan bongkar muat ke kapal laut hampir tiap hari kelihatan.

    Oh…sirombuku…..dimana engkau kini ??????? Kenapa kau pergi dan tak pernah nongol lagi ????

  2. Markus Marundruri Says:

    Sayang sekali kota sirombu mati…maunya dibangun lagi rumah disana.
    soalnya kalau mau ke Hinako terlalu jauh dari Perumahan Delasiga.

    Mudah-mudahan pelabuhannya bisa hidup lagi.

  3. Ferdinan Waruwu Says:

    Saya dulu SMA di Tetesua Sirombu dan tinggal di Kampung Baru dibelakang Pasar Sirombu setiap hari saya melewati pasar Sirombu kalau pergi dan pulang Sekolah.

    Sekarang tinggal kenangan ya, mungkin dengan dibangunnya pelabugan Sirombu akan memicu kegiatan perekonomian di masa yang akan datang, semoga saja.

    Sirombu….riwayatmu kini

    Ferdinan Waruwu
    Padang – Sumatera Barat

  4. Siduhusokhi Ziliwu Says:

    saya kengen pulang melihat kota Sirombu, sudah 21 tahun di tanah Rantau belum pernah pulang, padahal kota Sirombu itu punya kenangan tersendiri buat saya. Semoga Pemerintah segera membangun kembali kota Sirombu beserta pelabuhannya.

  5. Uti Harefa Says:

    Saya mau pemerintah melihat keadaan Sirombu. Kita tahu, walaupun Sirombu merupakan kota kecil, tetapi itu perlu di perhatikan. Saya tidak ingin Sirombu tidak di pedulikan begitu saja. Padahal Sirombu juga mempunyai objek wisata yang bisa menarik perhatian para turis. Tetapi mengapa tidak pernah ada yang menatanya?


  6. Senang melihat Sirombu bangkit kembali… hampir 2 tahun berada di sana cukup terkesan… saya suka orang2 yang ramah dan bekerjasama,,,,,

    Suatu saat ingin pulang ke Pantai Sirombu…

  7. Mutiara Hia Says:

    katanya sih di pasar sirombu sudah tak ada kegiatan karena sudah pindah ke Delasiga

  8. hia Says:

    Pantai Sirombu memang sangat berkesan bagi setiap orang
    khususnya kec. sirombu

    saya msh ingat dulu klo pulang sekolah main disepanjang pantainya
    yang indah

    tp sekarang kini sepi, karna diterjang tsunami beberapa tahun lalu
    sedih,,,sedih,,,,sedih,,,,,,,,,,,

    moga kec. sirmbu dibangun kembali
    amin

    depok

  9. amos Says:

    aq kagum sama bpk fona marunduri yang mempunyai jiwa sosial tinggi. itu gambaran orang yang tidak lupa dengan leluhurnya.

  10. Dodo Says:

    Kenangan yang tidak terlupakan di pasar sirombu, sangat hiruk-pikuk setiap hari sabtu…sozamadu-madu, sozifatezu..dlll

    Semoga pasar sirombu dapat jaya kembali, setelah kab nias barat ada.

    Tq Yaahowu


  11. Banyak kenangan yang tak terlupakan di daerah tercinta (SIROMBU). Sekitar tahun 2003/2004 saya sekolahnya di SMA Negeri 1 Sirombu. Kenakalan adalah milik kita bersama teman2, baik seangkatan maupun tmn2 di kls lain. Suka, Tawa, Ceria menghiasi perjalanan hidup bersama dan juga ada duka yang tak terkalahkan datang menghampiri. Kebahagiaan berkumpul bersama tmn2 itulah kerinduan sepanjang jaman. Kenangan tinggal kenangan, menanti waktu kapan JIWAKU bertemu dengan ENGKAU (SIROMBU) yang Ku-Cinta….
    …………UNTUK MU SIROMBU …………….
    Ya’ahowu

  12. Anwar An.Waruwu Says:

    Mudah2an ada perhatian pemerintah daerah untuk membangun sirombu supaya perekonomian disana bisa bangkit kembali

  13. yenny Says:

    aku orang nias yang bertempat tinggal disirombu..
    pada umumnya nias barat itu indah sekali,pantai,budaya dan ombaknya yang indah, tapi sayang di biarin gitu aja,malah warga asing memanfaatkan keindahan wisata lautnya..ayo donk pemerintah n warga2 nias yang uda hidup dikota, mari kita wujutkan nias penuh dengan warna yang berbeda,oyo kita buat nias maju dan INDAH..kalau bukan kita siapa lagi????????
    NIAS adalah asset yang kita…

  14. yemima gulo Says:

    saya bangga sirombu dikunjungi pangeran monaco II price Lord…percaya sirombu pasti berjaya lagi..dgn posisi yg begitu stategis


  15. sungguh menyedihkan bila pasar sirombu tdk di bangun lagi,dulu masa Sma di sirombu sering jalan2 kalau istrahat tuh,toko Lunga,dan Pak Alexsander masir ada?


  16. Yang sangat disayangkan pantainya itu atuh,karena tdk ada seindah pantai di p.jawa ini
    jika yang berwewenang mungkin salah satu objek wisatawan/main sky

  17. Marthyn Laia Says:

    kita saling membangun Negara kita jangan saling menjatuhkan. agar daera kita Kususnya Nias yang sangat indah ini manjadi lebih baik di masa depan yang akan datang…..?

    Yaahowu Tano Niha

  18. Elvi zalukhu Says:

    sirombuku yg indah

  19. ananda berkah pangestu Says:

    aku sedih lihat tsunami sirombu ku tersayng


  20. Pantai sirombu… Puji syukur kita saat ini atas kembali rame pantai sirombu… Kt harapkn pd pemkab nias barat agar APBD di siapkn untuk pantai sirombu….

  21. a Says:

    kotanya dah maju pesat ya,,,sukses slalu…!!!


  22. Halo semua salam kenal ya.gbu


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: