Proyek Drainase Di Kota Gunungsitoli Asal Jadi

12,Oktober, 2007

Kamis, 11 Oktobe 2007 03:00 WIB
new-picture-2.png

Proyek BRR Nias pada pembangunan jaringan drainase yang berlokasi di Jln. Sirao Kota Gunungsitoli berbiaya ratusan juta rupiah diduga dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai spek sehingga kualitasnya tidak bertahan lama serta melakukan pencurian volume pekerjaan.

Gunungsitoli, WASPADA Online

Proyek BRR Nias pada pembangunan jaringan drainase yang berlokasi di Jln. Sirao Kota Gunungsitoli berbiaya ratusan juta rupiah diduga dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai spek sehingga kualitasnya tidak bertahan lama serta melakukan pencurian volume pekerjaan.
Proyek PPK PLP dan Air Minum Kabupaten Nias untuk pembangunan jaringan drainase sangat disayangkan dikerjakan asal jadi dan diduga tanpa perencanaan yang baik.

Pada pekerjaan jaringan drainase sebelumnya telah terpasang jaringan pipa distribusi air minum milik PDAM Tirtanadi Cabang Gunungsitoli. Namun kontraktor saat membangun pasangan dinding parit beton tidak memisahkan pipa tersebut diluar dinding parit melainkan ikut membeton di dalam pasangan dinding parit itu. Hal ini diduga dilakukan rekanan untuk mengurangi pemakaian bahan material batu maupun semen pada pekerjaan tersebut. Ulah rekanan ini terbukti telah melakukan pencurian volume pekerjaan yang bertujuan untuk mencari keuntungan yang besar tanpa memikirkan kualitas pekerjaan.

Selain diduga melakukan pencurian volume, pekerjaan pembangunan drainase juga dikhawatirkan tidak akan bertahan lama karena terdapat ruang kosong akibat dimasukkannya pipa air tersebut di dalam pasangan dinding parit beton tersebut. Ke depan jika parit beton mulai rusak dengan sendirinya pipa yang tertanam di dalamnya ikut mengalami rusak. Demikian juga bila jaringan pipa distribusi untuk air minum disambungkan ke rumah warga maka parit terpaksa dihancurkan karena tertanam di dalam beton sehingga memerlukan biaya perbaikan yang lebih besar.

Warga di sekitar Jalan Sirao Gunungsitoli sangat menyayangkan hal ini terjadi. Warga meminta kepada BRR Nias untuk lebih teliti dalam melakukan pengawasan terhadap pekerjaan rekanan pelaksana dan pipa yang terlanjur ditanam di dalam dinding parit beton dibongkar kembali untuk dipisahkan.

PPK PLP dan Air Minum, Rasmin Sembiring saat dikonfirmasi di kantornya, Rabu (10/10) membantah pihaknya membiarkan kontraktor melakukan penyimpangan dengan menyatukan pipa air di dalam pasangan dinding parit beton. Dia berjanji akan memerintahkan kontraktor untuk membongkar kembali pasangan parit yang telah tertanam pipa air itu. (a35)

4 Responses to “Proyek Drainase Di Kota Gunungsitoli Asal Jadi”

  1. Moderator Says:

    Jangan berlaku kasar dan main menang sendiri, kalau mau minta maka kepadamu akan diberikan…

  2. Moderator Says:

    Inilah wajahku yang mengambil website ini dari orang lain, aku sakit hati karena aku tidak diberitakan/ditampilkan padahal sekarang aku menyadari kalau aku minta mungkin diberikan kepadaku untuk mengelola. Dasar aku keras kepala dan kupikir cuman aku yang hebat, mohon maaf ya bagi yang berkreasi membuat website http://www.pilarniasbarat.wordpress.com, anda hebat juga kupikir tadinya cuman aku yang bisa sehingga kubaangga-banggakan punya aku niasbarat.wordpress,com ternyata dunia ini lebar, masih banyak yang lebih hebat dari aku, sekali lagi mohon maaf.

  3. Moderator Says:

    Selamat Idul Fitri, terima kasih anda sudah mampir duduk sebentar sebagai moderator…enak kan, mintalah maka kepadamu akan diberi.

  4. ANG Says:

    Ya’ahowu!

    Terkait topik di atas, saya ingin mencoba menganalisa mengapa hal tsb dapat terjadi? Siapakah yang kemungkinan besar melakukan kesalahan, apakah kontraktornya atau panitia tendernya di BRR atau mekanisme proses tender atau ada hal2 lain.

    Setiap kita melaksanakan sesuatu apakah itu manajemen proyek dll pasti dimulai dari INPUT ; PROSES ; OUTPUT.

    Pada artikel di atas dikatakan bahwa kontraktor bekerja asal jadi dan mengerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis. Kita harus bertanya mengapa kontraktor tsb tega nian melakukan hal tsb? Sebelum kita menyalahkan kontraktor maka perlu dianalisa satu hal yakni: Apakah proses tender sejak awal telah dilakukan secara profesional & mengutamakan mutu?

    Profesional dalam hal ini adalah saat proses tender berlangsung, maka masing2 kontraktor peserta tender diharapkan telah memberikan suatu presentasi yang profesional di bidang teknik/engineering terkait proyek tertentu sesuai bidangnya.

    Seorang Tukang Batu mampu untuk membuat drainase asal kita berikan dana kepada tukang batu tsb.

    Namun yang diuji sebenarnya pada proses tender yang menjadi salah satu key point adalah bagaimana SDM masing2 kontraktor tsb (tenaga ahlinya yang ahli di bidangnya dengan gelar S1 atau S2 atau S3) mampu memaparkan salah satu bidang TEKNIS yang ditenderkan dari aspek Engineering Value termasuk manajemen proyeknya melalui presentasi yang transparan & bermutu di depan para panitia tender. Inilah salah satu key point yang sangat besar yang harus dinilai oleh setiap para panitia tender.

    Jika hasil presentasinya mendapatkan nilai tinggi misalnya 95 maka bisa saja dimenangkan dalam proses tender walau harganya lebih mahal dibandingkan dengan satu kontraktor lain yang saat presentasi nilai kualitas presentasinya hanya mencapai 50-75 dan harga lebih rendah. What for proyek diberikan kepada kontraktor yang nilai presetasinya hanya 50 dan harga murah?

    Di sinilah kita harus mulai belajar bahwa nilai SDM (Engineering Value) harus dihargai dan dibayar mahal. Jadi yang diadu bukan harga murah/rendah suatu tender proyek tetapi tekniknya & manajemen proyeknya saat presentasi yang dilakukan oleh masing2 kontraktor.
    Memang idealnya yang kita harapkan adalah nilai presentasi saat proses tender “tinggi” dan penawaran “harga terendah”. Namun perlu diketahui bahwa tidak ada di dunia ini dengan harga murah menghasilkan kualitas yang lebih baik. Harga mobil sedan Mercedes berbeda dengan sedan Toyota Camry. Sama-sama mobil antara mercedes & toyota camry. Namun kenyamanan, prestige, brand image dsb berbeda antara mercedes dibandingkan toyota camry.

    Jika kita minum Coca Cola di Warung Tegal (Warteg) berbeda harganya jika kita minum Coca Cola di lobi hotel berbintang 3-5 atau di cafe atau night club he…8x. Why? Rasa coca colanya sama tetapi mengapa harga untuk coca cola tsb yang kita bayar berbeda? Jawabannya: pelayanan, suasana dan service yang berbeda antara minum coca cola di Warteg & di lobi hotel, cafe dsb.

    Jadi jika kita mengharapkan sesuatu kualitas manajemen proyek yang baik, after sales service yang baik dsb dari kontraktor, maka harga tendernya perlu ”reasonable” sesuai dengan teknologi & kapabilitas SDM yang dimiliki oleh masing2 kontraktor tsb.
    Artinya owner (pemberi kerja) perlu membayar mahal lebih kepada kontraktor yang menguasai di bidangnya dengan catatan tidak ada dana2 ekstra yang menguap untuk non teknis dsb sebagai wujud nyata penerapan Good Corporate Governance (GCG).
    Mohon para pembaca menyimak situs: http://www.rekayasa.com & http://www.triharyo.com

    Shalom,
    ANG


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: